Pages

Thursday, 13 June 2013

Metodologi Berpikir Marhaenis

Sebagai kader ideologis (seorang marhaenis) yang melakukan perjuangan untuk kepentingan rakyat demi tercapainya tujuan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur adalah merupakan hal yang wajar dan wajib kalau metode berpikir kaum marhaenis memihak kepada kepentingan rakyat.
Berdasarkan i'tikad yaitu memihak kepada rakyat, maka kaum Mahaenis berpikir secara Realitas, Dialektis, dan Revolusioner.

1.       Realistis
Realistis disini mempunyai maksud adalah melihat, berpikir dan bersikap kepada segala sesuatu apa bila hal tersebut memenuhi sebagai “kenyataan yang benar dan kebenaran yang nyata “.
Contoh :
UUD 1945 menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara; apakah ini nyata ?, ini memang nyata, sebagai suatu kenyataan ini tidak benar. Benar UUD 1945 menyatakan demikian tapi isi UUD tersebut tidak nyata.

2.       Dialektis
Sebagai suatu akibat adanya suatu kejadian atau persoalan pastilah ada sebabnya, dan sebab itu sendiri pastilah ada penyebab.
Dalam proses mencari penyebab dalam suatu permasalahan itu maka akan di temukan adanya saling hubungan antara kondisi dari ruang, waktu dan persoalan dan adanya perubahan kualitatif menuju kuantitatif, dan kuantitatif menuju kualitatif atau (nagasi terhadap nagasi) yang di sebabkan karena adanya pertentangan atau perbedaan.

a.       Adanya hubungan antara ruang, waktu dan persoalan.
                                                              i.      Hubungan antara ruang dan ruang.
Contoh :
-          Adanya banjir yang disebabkan gundulnya hutan dan gunung-gunung.
-    Di Irak ada peperangan karena adanya kepentingan kapitalis-kapitalis di Amerika

                                                            ii.      Hubungan antara waktu dan waktu.
Contoh :
-      Rakyat RRc Sekarng sebagian besar jadi komunis tidak dapat dipisahkan dari jaman-jaman sebelumnya, dimana pejuang nasional Dr. Sun Yat Sen dimusuhi oleh Inggris dan AS yang memaksa ia berpaling dari Rusia.
-           
                                                          iii.      Hubungan antara Persoalan dan persoalan (materi dan materi)
Contoh :
-     Matinya perusahaan- perusahaan nasional ada hubungannya dengan politik impor-ekspor. Tahun 1956 ada pemberontakan PRRI-PERMESTA yang ditumpas oleh Jendral A. Yani, tahun 1965 Jend. A. Yani dibunuh dalam GESTOK kemudian tahun 1968 bekas pemberontakan PRRI-PERMESTA di rehabillitasi bahkan tokohnya ada yang menjadi menteri.

b.      Adanya Perkembangan / perubahan-perubahan.
                                                              i.      Perubahan Kualitatif – Kuantitatif
Contoh:
-          sebuah jagung berubah secara kualitatif menjadi biji kemudian berkembang secara kuantitatif menjadi batang jagung sampai berubah yang sekaligus berkembang secara kualitatif dan kuantitatif. Inilah yang disebut dengan hukum nagasi terhadap nagasi.

                                                            ii.      Perbedaan/ pertentangan/ kontadiksi,
Adanya  perubahan tersebutu disebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan, demikian juga terjadi dikalangan masyarakat dan diantara negara-negara manapun di dunia.
Contoh :
-        Hitler berekpansi (menguasai) dengan dalih “kejayaan bangsa aria yang luhur”. Hal ini sebenarnya sekedar propaganda atau bahan agitasi, kemudian diikuti dengan pembunuhan masal pada kaum yahudi, dimana kaum yahudilah  yang menguasai perekonomian Jerman, sehingga ras Aria dapat mengambil alih kekuasaan ekonomi.
   
                                                          iii.      Pertentangan antagonis dan pertentangan non antagonis (kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok).
Kontradiksi pokok adalah kontradiksi  (pertentangan) yang harus segera di tanggulangi dan pihak-pihak yang saling berkontradiksinya dengan cara konfrontasi.
Kontradiksi yang tidak pokok masih dapat diselesaikan dengan konsultasi daja dan diplomasi tidak perlu saling konfrontasi.
Perubahan kontradiksi pokok ke kontradiksi tidak pokok dan sebaliknya dinamakan juga dengan istilah transutasi.
Contoh :
-          Pertentangan antar kaum nasionalis, islam dan komunis dimasa penjajahan bisa diselesaikan denganjalan diplomasi. Karena pertentangan diantara golongan pada saat itu merupakan kontradiksi tidak pokok, sedangkan pokoknya adalah antar rakyat melawan penjajah.

3.       Revolusioner
Revolusioner artinya menjebol dan membangun, berwatak dinamis untuk menjebol dan membangun. Hanya orang yang mampu memberikan konsep-konsep  penyelesaian masalah dan sekaligus mampu menyingsingkan lengan baju tanpa menghitungkan untung rugi untuk pribadinya.
Seorang revolusioner yang memihak rakyat pastilah progresif, mengetahui perkembangan jaman, mengerti keharusan sejarah bagi rakyat. Kalau tidak demikian dia hanya seorang retro progresif Revolusioner, jadi revolusioner itu ada dua yaitu progresif Revolusioner dan Retro progresif Revolusioner, yang satunya memberikan masa depan dan yang satunya menjerumuskan.

Dapat kita artikan arti Revolusioner untuk kaum marhaen adalah :
1.       Berwatak Dinamis, terus-menerus dan ingin bergerak.
2.       Memihak rakyat, selalu waspadaterhadap segala gerak musuh rakyat.
3.       Melihat dan membawa rakyat untuk masa depan yang gemilang.
4.       Tidak menghitung untung rugi buat pribadi, asalkan menguntungkan revolusi dan rakyat

Akan tetapi, disamping itu kader-kader mesti juga punya konsepsi maupun pelaksana. Pelaksanaan yang cukup tangguh untuk mengganti segala sesuatu yang di jebolnya, karena menjebol tanpa membangun itu namanya anarki, hanya amuk-amukan.

No comments:

Post a Comment